KOMPLEK PENDOPO MUDA GRAHA

Kabupaten Madiun berdiri sejak tahun 1568. Waktu itu masih bernama Kadipaten Purabaya. Pusat pemerintahan pertama diyakini di Desa Sogaten. Bupati pertama tercatat dengan nama Pangeran Timur yang merupakan Putra Bungsu dari Sultan Trenggono. Dalam perkembanganya, pusat pemerintahan Kabupaten Madiun sudah berkali-kali mengalami berpindah tempat. Penyebab perpindahan tersebut tidak diketahui selain alasan kosmologis Jawa, sebagaimana yang telah diketahui, banyak kota kerajaan di Jawa yang selalu berpindah setiap kali pergantian rezim (Hudiyanto, 2003).
Adapun daerah-daerah yang pernah dijadikan pusat Pemerintahan Kabupaten Madiun adalah Sogaten (saat masih bernama Kadipaten Purabaya), Kuncen / Wonorejo (saat masih bernama Kadipaten Purabaya), Demangan (Wonosari), Kranggan, Maospati (Magetan), Pangongangan, dan yang baru saja Mejayan (Caruban).
Sebagai pusat pemerintahan dibangunlah sebuah bangunan permanen yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan tempat tinggal Bupati, yang dikenal sebagai Pendopo Kabupaten. Dari 6 daerah yang pernah dijadikan pusat pemerintahan (tidak termasuk Mejayan) dan dibangun pendopo, hanya 1 pendopo yang masih utuh yakni Pangongangan. Pusat pemerintahan di Pangongangan ini bertahan cukup lama diantara daerah lainnya.
Pendopo yang ada di Desa Sogaten sekarang hanya tersisa umpak-umpak batu. Bekas pendopo di Kranggan saat ini menjadi area sawah, tapi masih bisa ditemui toponimi yang berhubungan dengan konsep alun-alun jawa seperti sawah alun-alun, puntuk sigit (diduga dari kata Mesigit atau Mesjid). Sedangkan yang lainya sudah hilang dan tidak dapat diketahui secara pasti lokasinya.
Pendopo Kabupaten Madiun di Pangongangan bernama resmi Pendopo Muda Graha. Ronggo Prawirodiningrat (1822 – 1861) adalah putra Bupati Ronggo Prawiridirjo III (menjabat 1795 – 1810), Ronggo Prawirodiningrat ini merupakan bupati pertama yang menempati Pendopo di Pangongangan. Hal ini dikarenakan Bupati Ronggo II (1784 – 1795) sampai Tumennggung Tirtoprojo (1820 – 1822) masih berkedudukan di Kranggan dan Maospati. Mengenai masa pembangunan Pendopo di Pangongangan belum diketahui secara pasti. Namun pembangunannya sudah rencanakan oleh Bupati Ronggo Prawirodirjo I (1755 – 1784), Bupati Wedana Mancanegara Timur yang saat itu berkedudukan di Kranggan berkeinginan membangun pendopo baru. Desa Taman sebenarnya ingin dijadikan pusat kabupaten selanjutnya namun usaha ini mengalami kegagalan karena desa tersebut hanya cocok untuk pesarean atau pemakaman. Sang Bupati kemudian meminta nasihat para ahli nujum untuk menentukan lokasi yang baru. Untuk menentukan lokasi pendopo yang baru ahli nujum menjadikan Makam Nyai Ronje sebagai patokan. Lokasi tersebut adalah daerah Pangongakan, berasal dari kata Ngongak yang berarti melihat sesuatu. Makam Nyai Ronje masih ada hingga sekarang dan merupakan punden desa bagi warga Panggongangan sehingga setiap bulan suro sering diadakan upacara bersih desa. Tokoh ini dipercaya sebagai pembabat tanah Pangongangan ini.
Pada tahun 1836, Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Dominique Jacques de Eerens (1835-1839) sempat berkunjung ke Madiun yang kemudian dijamu oleh Bupati Ronggo Prawiradiningrat di pendopo yang megah. Dari laporan perjalanannya dikatakan, Kabupaten Madiun dibangun dan ditata sesuai dengan selera eropa yaitu sebagian bangunan terbuat dari batu yang merupakan perpaduan gaya Jawa dan Eropa. Sentuhan gaya Eropa nampak pada bangunan utamanya dengan pemakaian pilar-pilar yunani layaknya seperti rumah resident. Hal tersebut juga nampak pada bangunan-bangunan yang berada di Kompleks Pendopo Kabupaten.
Tahun 1926 Burgelijke Open bare Werken (B.O.W) (Dinas PU-nya Hindia Belanda) membuat denah keseluruhan kompleks Pendopo Kabupaten Madiun dengan total luas 3.900 m2. Denah tersebut dapat dilihat di Buku Madiun : Sejarah Politik & Transformasi Kepemerintahan dari abad XIV hingga awal abab XXI yang disusun Tim Fakultas ilmu Budaya UGM dengan Pemerintah Kabupten Madiun halaman 253-254. Berdasarkan denah terdapat bangunan-bangunan pendukung Pendopo Kabupaten Madiun yang berupa penjara kabupaten, peseban, panggung, kantor persoenel, ruang gamelan, ruang mobil tempat/kandang kuda serta kantor kabupaten (Regents chaps kantoor).

LOKASI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Beranda
Lokasi
Jenis
Statistik
Cari